Simak rekomendasi sejumlah analis untuk saham Bank Mandiri (...
Investasi

Simak rekomendasi sejumlah analis untuk saham Bank Mandiri (BMRI)

FINANCEROLL –┬áJAKARTA. Pasca dihadapkan pada tantangan tren suku bunga tinggi di 2018, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI, anggota indeks Kompas100 ini) dinilai bakal dihadapkan pada tantangan likuiditas ketat. Di samping itu, Non Performing Loan atau rasio kredit macet (NPL) komersial tahun ini masih cenderung tinggi.

Meskipun cenderung membaik, NPL BMRI sepanjang 2018 masih menempel garis batas 3%, tepatnya di 2,75% atau turun hanya 29 basis poin (bps) di kuartal IV-2018 dari kuartal sebelumnya 3,04%.
Baca Juga Hingga kuartal I-2019, 51% KUR Bank Mandiri sudah masuk ke sektor produksi BRI luncurkan KKB ramah lingkungan Ekonom Bank Mandiri nilai neraca dagang Maret surplus karena impor yang rendah Sebanyak 90,29% nasabah Mandiri Syariah sudah lunasi biaya haji

Alasannya, kredit komersial yang selama ini mendominasi NPL BMRI hanya turun 2,5% quarter on quarter (qoq) menjadi Rp 15 triliun dari total kredit macet Rp 20 triliun.

Head of Equity Research Strategy Banking, Consumer dari Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma menjelaskan, dari total NPL BMRI sepanjang 2018 yakni Rp 20 triliun, sebanyak Rp 15 triliun berasal dari kredit komersial. Manajemen BMRI memperkirakan, di akhir 2019 NPL Kredit Komersial turun sekitar 2,6% menjadi Rp 14,6 triliun.

“Makannya, BMRI mengerem penyaluran kredit di komersial, yang dulunya merupakan andalan BMRI setelah corporate loan,” kata Suria kepada Kontan.co.id, Senin (15/4).

Tahun ini, Samuel Sekuritas memperkirakan kredit komersial BMRI bisa turun sekitar Rp 300 – Rp 400 miliar. Namun, untuk emiten itu bisa benar-benar lepas dari NPL, terutama kredit komersial masih memerlukan waktu.

Pilihan BMRI untuk memperbaiki Net Interest Margin atau marjin bunga bersih (NIM), telah menahan laju Dana Pihak Ketiga (DPK) ke bank dengan simbol pita emas tersebut.

Tak terelakkan juga, loan to deposit ratio atau rasio likuiditas (LDR) naik menjadi 97,1% di akhir 2018 dan DPK hanya tumbuh 3,1%.

Samuel sekuritas memproyeksikan, pertumbuhan kredit dan DPK BMRI sebesar 11% dan 9% year on year (yoy) untuk 2019. Sedangkan Manajemen BMRI menargetkan LDR bisa bergerak ke 94%.

“Likuiditas terutama valas mungkin salah satu tantangannya, karena tahun lalu yang turun banyak giro valas. Makannya mereka bakal terbitkan obligasi valas,” jelasnya.

Tahun ini, BMRI berencana untuk mencari pendanaan melalui surat utang global senilai US$ 750 juta. Suria mengungkapkan, upaya tersebut dilakukan untuk mengantisipasi likuiditas valas yang mengetat.

Analis Maybank Kim Eng Rahmi Marina dalam risetnya berharap emiten tersebut bisa menekan NPL di 2019 ke level 2,6%. Di mana, laba perusahaan diprediksi bisa tumbuh sebesar 2,2% – 2,9% selama periode 2019 hingga 2020.

“Kami merevisi target harga saham naik menjadi Rp 8.275 dari sebelumnya Rp 6.900, serta merevisi rekomendasi Hold menjadi Buy,” ungkap Rahmi dalam risetnya 31 Januari 2019.

Senada dengan Rahmi, Suria juga merekomendasikan Buy untuk saham Bank Mandiri dengan target harga Rp 8.200, dengan harapan kredit masih akan bertumbuh.

“Loan growth masih bisa tumbuh double digit, net profit juga kita perkirakan masih tumbuh cukup baik. Sekarang, harganya masih potensial upside ke target harga kita,” jelas Suria.

Riset JP Morgan 29 Januari 2019 menilai, pernyataan manajemen BMRI yang mengatakan bahwa perusahaan tersebut memiliki kelebihan modal sebanyak Rp 30-40 triliun, berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai penyokong pertumbuhan organik.

Meskipun begitu, JPMorgan cenderung merekomendasikan untuk overweight saham BMRI dengan target harga akhir tahun Rp 8.400.
Reporter: Intan Nirmala Sari
Editor: Yudho Winarto Reporter: Intan Nirmala Sari
Editor: Yudho Winarto Video Pilihan
Artikel Asli

Leave a Comment