Connect with us


Financial

Premi restrukturisasi perbankan bikin beban bank makin besar

Published

on

Premi restrukturisasi perbankan bikin beban bank makin besar

FINANCEROLL – JAKARTA. Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) masih menunggu pembahasan regulasi Program Restrukturisasi Perbankan (PRP) turunan dari UU 9/2016 mengenai Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan. 

Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan mengatakan saat ini pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat masih menggodok regulasi tersebut. “Masih dalam pembahasan, pada akhirnya premi PRP itu ditentukan berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP), berdasarkan konsultasi dengan DPR,” Kata Fauzi Ichsan di Jakarta, Senin (13/5).
Baca Juga Desain program restrukturisasi perbankan rampung kuartal I 2019 Ini isi lengkap pembelaan mantan Kepala BPPN Syafruddin atas kasus BLBI LPS: Draf aturan premi restrukturisasi perbankan sudah tahap final LPS: Aturan premi restrukturisasi masih dibahas di Kementerian Keuangan

Fauzi menambahkan, regulasi ini dibutuhkan untuk mencegah (ex ante) terjadinya krisis keuangan yang bersumber dari bank sistemik. Kelak melalui beleid ini, perbankan mesti membayar premi yang ditentukan. Sementara waktunya akan dipungut selama program restrukturisasi perbankan berlangsung.

Meski regulasinya belum terbit, Fauzi mencontohkan kelak pemerintah akan menargetkan berapa dana yang mesti dikumpulkan dalam program. Nilai dana tersebut yang kelak akan ditanggung industri perbankan.

“Misalnya target dana yang dikumpulkan berdasarkan PDB 2017, apakah itu 1%, atau 3%, kemudian dikalkulasikan berapa kebutuhan dana, waktu, dan besaran premi yang mesti ditanggung bank,” jelasnya.

Nah, sepanjang waktu dan target dana yang ditentukan bank akan membayar premi tersebut secara rutin. Fauzi bilang besaran iurannya akan didasari dari jumlah simpanan bank.

Menanggapi hal ini beberapa bankir yang dihubungi Kontan.co.id menilai regulasi premi PRP akan memberatkan operasional bank. 

Direktur Utama PT Bank Mayapada Tbk (MAYA) Hariyono Tjahrijadi bahkan menyatakan regulasi ini berpotensi menggerus profitabilitas perbankan.

“Otomatis biaya operasional bank akan bertambah naik sehingga akan mengurangi profitabilitas perbankan. Namun saya yakin pemerintah sudah memikirkan masak-masak tentang hal ini untuk kebaikan industri keuangan secara khususnya perbankan di tanah air,” katanya kepada Kontan,co.id, Selasa (14/5).

Pernyataan tidak setuju juga muncul dari Direktur Keuangan dan Tresuri PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) Iman Nugroho Soeko. Ia bilang saat ini, bank sudah membayar premi simpanan ke LPS yang nilainya mencapai 20 bps dari simpanan, atau maksimum senilai Rp 2 miliar.

“Lagipula ini juga tidak cocok dengan konsep bail in, karena seluruh industri perbankan mesti menanggung kegagalan dari satu atau dua bank yang bermasalah,” katanya.
Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Herlina Kartika Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Herlina Kartika Video Pilihan
Artikel Asli

Financial

Sampai Juni 2019, Buana Finance mencatatkan pembiayaan multiguna sebesar Rp 1 triliun

Published

on

Sampai Juni 2019, Buana Finance mencatatkan pembiayaan multiguna sebesar Rp 1 triliun

FINANCEROLL – JAKARTA. Industri pembiayaan atau multifinance semakin gencar dalam aksinya menyalurkan pembiayaan multiguna di tahun ini. Menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan multiguna pada bulan Mei 2019 tercatat sebesar Rp 25,93 triliun meningkat dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 23,59 triliun.

Corporate Secretary PT Buana Finance Ted Suyani mengatakan, perusahaannya menargetkan pembiayaan multiguna tahun ini sebesar Rp 2,3 triliun. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan realisasi tahun lalu yang sebesar Rp 2,1 triliun.

Sampai Juni 2019, Buana Finance mencatatkan pembiayaan multiguna sebesar Rp 1 triliun, meningkat 2,04% periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 981 miliar. Adapun secara total, Buana Finance telah merealisasikan pembiayaan sebesar Rp 1,4 triliun sampai tengah tahun ini.

Baca Juga: Buana Finance ingin pendanaan luar negeri lebih murah dari lokal

“Hingga Juni 2019 Komposisinya mobil baru 23,4 % atau Rp 239,5 miliar dan mobil bekasnya 76,6% atau 785,5 miliar,”ujar Ted Suyani kepada Kontan.co.id, Selasa (30/7).

Hingga saat ini, Buana Finance fokus memberikan pembiayaan multiguna untuk kebutuhan di pembiayaan kendaraan bermotor roda empat baik kebutuhan investasi maupun konsumtif.

“Dari kebutuhan yang kita fokuskan untuk memberikan pembiayaan multiguna, di sektor pembiayaan kendaraan bermotor roda empat saat ini,” kata Ted Suyani.

Baca Juga: Multifinance catatkan peningkatan yang cukup signifikan dalam pembiayaan alat berat

Untuk memenuhi target tersebut perusahaan telah menyiapkan sejumlah strategi mulai dari strategi peningkatan kerja sama dengan dealer dan showroom mobil bekas. Selain itu peningkatan pelayanan dari sisi approval pembiayaan melalui teknologi dengan tidak meninggalkan faktor kehati-hatian.

“Beberapa KSKC yang baru di buka tahun 2018, di tahun 2019 ini diharapkan sudah bisa berkontribusi maksimal. Antara lain KSKC Bangka, Semarang (TVRI) dan Tangerang Kota,” katanya.
Reporter: Ahmad Ghifari
Editor: Yudho Winarto Video Pilihan
Reporter: Ahmad Ghifari
Editor: Yudho Winarto
Artikel Asli

Continue Reading

Financial

Sampai Juni 2019, pembiayaan multiguna Indosurya Finance mencapai Rp 245 miliar

Published

on

Sampai Juni 2019, pembiayaan multiguna Indosurya Finance mencapai Rp 245 miliar

FINANCEROLL – JAKARTA. Perusahaan pembiayaan semakin gencar menyalurkan pembiayaan multiguna di tahun ini. PT Indosurya Inti Finance juga tak mau kalah menggenjot bisnis di segmen ini.

Managing Director Indosurya Finance Mulyadi Tjung mengatakan, sampai Juni 2019, pembiayaan multiguna Indosurya Finance sebesar Rp 245 miliar atau turun 13% dari periode sama tahun lalu.

Baca Juga: Sampai Juni 2019, pembiayaan multiguna Mandiri Tunas Finance tumbuh sebesar 77,82%

Adapun total pembiayaan Indosurya Finance mencapai Rp 723 miliar hingga kuartal II 2019. “Dengan adanya pesta demokrasi di tahun 2019, khususnya di semester awal, kami mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan khususnya di sektor multiguna,” kata Mulyadi Tjung kepada Kontan.co.id, Selasa (30/7).

Indosurya Finance fokus memberikan pembiayaan multiguna untuk kebutuhan pembiayaan pembelian barang atau jasa yang bersifat konsumtif dan kebutuhan pada sektor real estate atau properti.

Baca Juga: OJK menyebut pembiayaan multiguna meningkat karena relaksasi aturan

Indosurya memproyeksikan pembiayaan multiguna tahun ini mencapai Rp 600 miliar. Jumlah ini meningkat 13% dibandingkan tahun 2018.

Untuk memenuhi target tersebut, multifinance ini telah menyiapkan sejumlah strategi. Di antaranya, perluasan coverage area, pengembangan produk dan program pemasaran, serta melakukan digitalisasi dan perbaikan proses bisnis.
Reporter: Ahmad Ghifari
Editor: Komarul Hidayat Video Pilihan
Reporter: Ahmad Ghifari
Editor: Komarul Hidayat
Artikel Asli

Continue Reading

Financial

Sampai Juni 2019, pembiayaan multiguna Mandiri Tunas Finance tumbuh sebesar 77,82%

Published

on

FINANCEROLL – JAKARTA.PT Mandiri Tunas Finance (MTF) semakin gencar menyalurkan pembiayaan multiguna di tahun 2019 ini.

Sampai Juni 2019 sendiri, MTF mencatatkan pembiayaan multiguna sebesar Rp 770 miliar atau meningkat 77,82 % dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yang sebanyak Rp 433 miliar. 

Baca Juga: Permintaan naik, APPI yakin pembiayaan multiguna terus tumbuh hingga akhir tahun

Selama periode yang sama, MTF telah merealisasikan total pembiayaan sudah menembus Rp 13,5 triliun.

Direktur Pemasaran MTF Harjanto Tjitohardjojo mengatakan hingga saat ini, MTF fokus memberikan pembiayaan multiguna untuk beberapa kebutuhan di antaranya pendidikan, renovasi rumah, pernikahan, perjalanan, umrah dan kesehatan.

“Dari enam kebutuhan yang kita fokuskan untuk memberikan pembiayaan multiguna, sektor renovasi rumah dan modal usaha yang memiliki sektor paling besar,” ujar Harjanto kepada Kontan.co.id, Selasa (30/7).

Baca Juga: PNM sudah salurkan pembiayaan Rp 11,3 triliun sampai bulan Juli 2019

Mandiri Tunas Finance menargetkan pembiayaan multiguna tahun ini sebesar Rp 2 triliun. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan realisasi tahun lalu yang hanya sebesar Rp 900 miliar.

Untuk memenuhi target, perusahaan telah menyiapkan sejumlah strategi mulai dari memperkuat dan mempermudah masyarakat untuk mengenal produk multiguna MTF dengan brandingCash Aja.

Selain itu perusahaan juga terlibat dalam pameran otomotif dan mengoptimalkan basis data di MTF dan Bank Mandiri, pembukaan cabang khusus multiguna di Surabaya (sebagai project awal), dan melengkapi struktur organisasi multiguna.

Baca Juga: Kejar target inklusi keuangan, OJK gelar Aksimuda 2019

Secara bersamaan, industri pembiayaan atau multifinancesemakin gencar dalam aksinya menyalurkan pembiayaan multiguna di tahun ini. 

Menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan multiguna bulan Juni 2019 tercatat sebesar Rp 31,2 triliun, naik 10,6% dari periode sama tahun lalu sebesar Rp 28,2 triliun.
Reporter: Ahmad Ghifari
Editor: Tendi Video Pilihan
Reporter: Ahmad Ghifari
Editor: Tendi
Artikel Asli

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Zox News Theme. Theme by MVP Themes, powered by WordPress.