Makro Ekonomi

Periode 2018, Neraca Perdagangan RI Defisit US$8,57 Miliar

Finroll.com – Sektor industri ritel di Indonesia nampaknya masih mengalami masa sulit. Terbaru, dua perusahaan ritel ternama yakni Hero Supermarket dan Central Department Store di NeoSoho Jakbar menutup cabangnya.

Hero Supermarket misalnya, mereka terpaksa menutup 26 gerai karena PT Hero Supermarket Tbk sedang melakukan efisiensi. Akibatnya 532 karyawan terdampak dan mengalami pemutusan hubungan kerja.

Sementara Central Departement Store mengungkapkan, adanya perubahan pola belanja masyarakat menjadi salah satu alasan. Tutupnya dua ritel ternama ini juga menambah panjang daftar tren penutupan gerai ritel besar di Indonesia.

Di tahun 2018, tercatat PT Mitra Adiperkasa Tbk menutup gerai Lotus dan Debenhams. Masih di tahun yang sama, Matahari Departement Store juga menutup gerai di Pasaraya dan Manggarai. Sementara di 2017 Ramayana menutup delapan gerai.

Terkait dengan fenomena ini, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira memprediksi, tren penutupan toko ritel ternama lainnya bisa berlanjut di 2019.

Ini disebabkan oleh pertumbuhan retail yang cenderung melambat pada 2018. Terlebih, pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga tercatat stagnan rata-rata lima persen.

“Masih akan berlanjut gelombang penutupan ritel selama konsumsi rumah tangga dan daya beli melemah. Kondisi makro ini mulai pulih tapi sangat lambat,” ujarnya kepada awak media, Selasa (15/1).

Baca Lainnya: Pola Bisnis “Zaman Now” Diakui Jusuf Kalla Sulit Diikutinya, Kenapa Ya?

Dirinya menilai, pertumbuhan ritel secara keseluruhan di 2019 diprediksi masih ada di angka lima sampai tujuh persen. Sejalan dengan pertumbuhan konsumsi yang masih datar di lima persen.

Selagi kondisi makro ekonomi ini tidak mengalami peningkatan signifikan, Bhima meyakini jika tren tutupnya ritel masih akan berlanjut.

“Pastinya akan berpengaruh ke kinerja ekspor ya, dan pendapatan masyarakat. Di sisi lain efek pemilu, bisa jadi membuat kalangan menengah atas menahan belanja,” imbuhnya.

Di sisi lain, ia tidak setuju jika peralihan belanja dari ritel konvensional menjadi e-commerce menjadi alasan besar tutupnya ritel. Ia menyebut jika porsi e-commerce masih kecil dari total ritel. Kemudian, barang yang dijual pada platform e-commerce juga 70 persennya masih  berupa fashion. Sementara yang dijual pada supermarket adalah fast moving consumer goods.

“Jadi marketnya pun berbeda,” tandasnya.

Sumber: Berbagai sumber

Related posts

Begini Dampak Emiten Saham Setelah Anies Baswedan Cabut Izin Reklamasi

admin

Dolar jatuh setelah Bank Sentral AS pertahankan tahan suku bunga

antaranews.com

Harga minyak naik ke tingkat tertinggi 2019

antaranews.com

Leave a Comment