Connect with us


Ekonomi Global

Perekonomian global melambat, Bank Dunia soroti sejumlah risiko di 2019

Published

on

bank_dunia_financeroll_01

JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi global diproyeksi melambat sepanjang tahun ini, yakni 2,9% secara tahunan. Ekonomi dunia, terutama kelompok negara berkembang, rentan terhadap berbagai risiko global seperti mengetatnya kebijakan bank-bank sentral, perdagangan global dan aktivitas industri yang melamban, dan tekanan pada pasar keuangan yang meningkat.

Dalam laporan World Economic Prospects 2019, Bank Dunia menyebut, laju pengetatan moneter global yang lebih cepat berpotensi menyeret pertumbuhan ekonomi lebih rendah, terutama bagi negara berkembang. Kendati investor memprediksi kenaikan suku bunga The Federal Reserve bakal berakhir tahun ini, bank sentral Amerika Serikat (AS) masih melanjutkan sinyal kenaikan suku bunga yang berpotensi meningkatkan biaya pinjaman (borrowing cost) lebih tinggi lagi.”Naiknya biaya pinjaman dapat meningkatkan kecenderungan risk-aversion oleh investor dan menyebabkan aliran modal ke pasar negara berkembang terhenti,” terang Bank Dunia dalam laporannya.

Belum lagi, penguatan dollar AS lebih lanjut akibat kenaikan suku bunga bakal kembali menggerus mata uang sejumlah negara emerging market. Jika krisis mata uang terjadi, kontraksi perekonomian pada negara-negara yang terimbas pun tak terhindarkan layaknya yang terjadi pada Argentina dan Turki tahun lalu.

Banyak negara berkembang dihadapkan pada tantangan membiayai defisit neraca berjalan yang besar dan sangat bergantung pada aliran modal masuk yang fluktuatif. Seiring dengan tingkat utang luar negeri jangka pendek yang tinggi dan cadangan mata uang asing yang rendah, ini membuat negara-negara tersebut terekspos pada perubahan kondisi pembiayaan eksternal sehingga semakin tertekan.

Selanjutnya, Bank Dunia juga masih menyoroti tensi perang dagang jika kenaikan tarif antara AS dan China kembali berlanjut. Tarif dagang baru yang lebih tinggi lagi akan menekan perdagangan bilateral AS-China, meningkatkan permintaan untuk barang pengganti yang lebih mahal, dan berujung pada pertumbuhan ekonomi kedua negara yang melambat.

Perang dagang juga akan memengaruhi strategi investasi perusahaan multinasional dan menyebabkan perubahan dalam rantai nilai (value-chain). “Beberapa negara memang dapat mengambil manfaat dari perang dagang untuk jangka pendek, namun efek negatif dari pelemahan ekonomi AS atau China akan lebih mendominasi global,” terang Bank Dunia.Secara keseluruhan, Bank Dunia mencatat, penurunan 1 percentage point (poin persentase) pada pertumbuhan ekonomi AS akan berdampak setahun setelahnya terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi negara maju maupun negara berkembang sebesar masing-masing 0,6 poin persentase. Begitu pun dengan China, di mana penurunan 1 poin persentase pada pertumbuhannya berdampak pada pengurangan 0,3 poin pada pertumbuhan negara maju dan 0,6 poin pada negara berkembang.

Selanjutnya, Bank Dunia juga mengimbau masih adanya potensi risiko konflik geopolitik yang mulai mencuat sejak tahun lalu. Misalnya, keberlanjutan proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), pemilihan umum di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia, serta kondisi geopolitik di Timur Tengah yang kerap berkaitan dengan produksi dan harga minyak dunia. Seluruh risiko tersebut patut diwaspadai dan diantisipasi oleh seluruh pemangku kebijakan moneter maupun fiskal di setiap negara berkembang sepanjang 2019 ini.

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Ekonomi Global

Belum ada solusi konkret atas perang dagang dalam annual meeting di Bali

Published

on

By

NUSA DUA. Hingga hari ini, Minggu (14/10), serangkaian agenda pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund) dan Bank Dunia (World Bank) masih berlangsung. Namun demikian, belum ada solusi konkret dari serangkaian rapat ini atas perang dagang.

Lihat saja, hasil dari pertemuan International Monetary and Financial Committee (IMFC) dalam communique Sabtu lalu. Keputusan yang didapat soal tekanan perdagangan hanya mendorong peningkatan dialog tentang perdagangan dan meningkatkan kapasitas Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) untuk menghadapi situasi kini dan yang akan datang.

“Kami menyadari bahwa perdagangan dan investasi barang dan jasa yang bebas, adil, dan saling menguntungkan adalah mesin utama untuk pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja,” tulis IMFC dalam communique-nya.

Adapun, G20 menyatakan bahwa ketegangan perdagangan di antara kelompok G20 harus diselesaikan oleh negara-negara yang terlibat secara langsung. “Kami mengakui kami sekarang menghadapi ketegangan perdagangan di antara anggota G20,” kata Nicolas Dujovne, Menteri Keuangan Argentina yang menjadi ketua G20 tahun ini di Bali, Jumat.

“Bagian dari ketegangan itu harus diselesaikan oleh anggota itu sendiri,” katanya.

Ia melanjutkan, G20 dapat memainkan peran dalam menyediakan wadah untuk diskusi. Namun demikian, perbedaan yang masih ada ini harus diselesaikan oleh anggota yang terlibat langsung dalam ketegangan tersebut.

“Kami menyediakan mekanisme untuk konsensus dan kami sepakat dengan ketegangan ini kami harus bekerjasama. Sebulan lalu , ada pertemuan soal perdagangan dan ini sangat sukses karena kami sepakat kerjasama untuk meremajakan perdagangan internasional,” ujarnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers wrap-up AM IMF WB juga mengatakan bahwa solusi atas tekanan perdagangan adalah kedua negara harus bertemu. China, kata Sri Mulyani, bersedia berunding kembali soal ini.

“Sementara, AS menyampaikan bahwa nyatanya mereka bisa membuat kesepakatan dengan Meksiko dan Kanada. Sekarang, kami berharap dengan Korea Selatan, Eropa, dan Jepang,” ujar Sri Mulyani, Sabtu.

“Artinya, sudah ada tahapan-tahapan walaupun tadinya ada tarif retorik. Ternyata bisa saja settle. Kami harapkan dengan China akan bisa kerja sama dengan yang lain,” lanjutnya.

Adapun, saat menutup serangkaian acara AM IMF WB, Sri Mulyani bilang bahwa kondisi “winter is coming” ditujukan untuk negara-negara yang mengalami ketegangan perdagangan. Sementara, Indonesia dan negara lainnya ingin berkoordinasi demi keadaan yang win-win.

“Musim dingin akan datang di AS, Cina, Jepang, dan Eropa. Musim dingin akan datang ke sana. Kami ingin memberi Anda dan memberikan Anda cinta yang hangat dan semangat dari Bali untuk menciptakan perlindungan terhadap musim dingin Anda di sana. Tolong pertahankan semangat koordinasi dari Bali agar kita bisa bertahan di musim dingin,” ujar Sri Mulyani, Minggu.

China bersedia cari solusi

Di sisi lain, Gubernur Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBOC) Yi Gang mengatakan, China tengah berusaha untuk menyelesaikan ketegangan perdagangan dengan AS secara konstruktif.

“Saya kira, kami juga mencari solusi konstruktif terhadap ketegangan perdagangan saat ini,” katanya di Bali, Minggu.

“Kami ingin solusi konstruktif yang lebih baik daripada perang dagang di mana semua pihak akan lose-lose. Saya pikir mereka (pembuat kebijakan) harus meredakan dampak negatif pada ketegangan perdagangan sehingga seluruh dunia harus bekerja sama untuk mencari solusi yang kontruktif,” lanjutnya.

Dalam seminar perbankan internasional G30, ia mengatakan, risiko dari konflik perdagangan telah menyakiti pertumbuhan global dan menyebabkan ketidakpastian di pasar keuangan secara signifikan. Yi Gang pun setuju dengan laporan yang dikeluarkan IMF beberapa hari lalu soal efek dari ketidakpastian perdagangan kepada ekonomi dunia.

“IMF mempresentasikan model mereka dan meramalkan bahwa dunia akan kalah untuk ketegangan perdagangan. Baik untuk negara-negara perdagangan utama maupun untuk ekonomi global. Saya cukup banyak setuju dengan prediksi IMF. Saya pikir ketegangan perdagangan telah menjadi masalah yang menyebabkan ekspektasi negatif dan menciptakan ketidakpastian sehingga orang-orang gugup,” kata dia.

“Ada ketidakpastian yang luar biasa di depan kita,” tambahnya.

Continue Reading

Bitcoin

Bitcoin dkk Kembali Terpuruk, 13 Miliar Dollar AS Hangus dalam 3 Jam

Published

on

By

Financeroll — Harga Bitcoin anjlok bersama mata uang digital lainnya pada perdagangan Kamis (11/10/2018). Akibatnya hampir 13 miliar dollar AS hilang dari pasar cryptocurrency hanya dalam waktu 3 jam.

Berdasarkan data dari Coinmarketcap.com, pada pukul 10:23 waktu Singapura, bitcoin jatuh hampir 5 persen menjadi 6.303 dollar AS. Sementara mata uang digital lainnya, XRP dan ethereum melorot lebih dari 10 persen.

Dengan hasil ini, bitcoin, XRP maupun ethereum belum bisa kembali pulih ke rekor tertingginya seperti pada akhir 2017 dan awal tahun ini. Bitcoin lebih rendah 68 persen dari rekor tingginya 19.783,21 dollar AS pada 17 Desember tahun lalu.

Anjloknya nilai mata uang digital ini seiring dengan adanya peringatan baru dari Dana Moneter Internasional (IMF) tentang pertumbuhan pesat mata uang crypto dan potensi ancaman terhadap perekonomian.

“Pertumbuhan yang kiat cepat dari aset crypto dapat menciptakan kerentanan baru dalam sistem keuangan internasional,” sebut IMF dalam sebuah laporan baru-baru ini.

Para pelaku cryptocurrency berharap 2018 akan menjadi tahun regulator bisa ikut berpartisipasi untuk memprofesionalkan perdagangan aset digital melalui kebijakan produk keuangan baru seperti halnya saham yang diperdagangkan di bursa.

Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Di Amerika Serikat misalnya, SEC menolak beberapa kontrak investasi terkait mata uang digital. Sementara di negara lain, seperti China menerapkan regulasi keras pada cryptocurrency ini.

Pada saat yang sama, tahun ini ada peretasan tingkat tinggi pada pertukaran cryptocurrency serta sejumlah penipuan yang terkait dengan orang-orang yang melakukan penawaran koin pada masa awal. (Hidayat)

Sumber Berita : Kompas.com

Continue Reading

Ekonomi Global

AS ‘Kasihan’ Mata Uang China Terus Terperosok

Published

on

By

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Zox News Theme. Theme by MVP Themes, powered by WordPress.