Penurunan indeks jelang libur panjang dinilai wajar, analis ingatkan investor waspada
Investasi

Penurunan indeks jelang libur panjang dinilai wajar, analis ingatkan investor waspada

FINANCEROLL – JAKARTA. Libur panjang hari raya Idul Fitri perlu diwaspadai oleh para investor. Tren menunjukkan, selama ini volume perdagangan jelang libur lebaran akan lebih mini daripada biasanya.

Berdasarkan data RTI, selama sepekan volume transaksi di pasar saham mencapai 66,9 miliar dengan frekuensi transaksi mencapai 1,83 juta kali. Sedangkan nilainya mencapai Rp 34,4 triliun.
Baca Juga IHSG terdongkrak 1,18% hari ini, simak prediksi analis untuk perdagangan Jumat IHSG menguat 1,18% ke level 6.107 di akhir perdagangan Rabu (29/5) IHSG menutup perdagangan sesi I dengan kenaikan 1,03% IHSG melanjutkan kenaikan setelah jeda sehari

Untuk perdagangan Rabu (29/5), volume transaksi mencapai 14,82 miliar saham dengan total volume Rp 10,82 triliun. 

Head of Research Mandiri Sekuritas Adrian Joezer mengatakan hal tersebut merupakan sesuatu yang lumrah. Sepengamatannya, kecenderungan tersebut terjadi hampir di semua bursa saham di seluruh dunia. “Karena libur panjang ya risk outdulu. Apalagi kalau kita di Indonesia kaitannya dengan lebaran, biasanya orang akan ambil (hasil investasinya) untuk konsumsi,” kata Adrian kepada Kontan.co.id.

Ia juga menambahkan ada baiknya para investor melihat valuasi dari saham-saham, baik yang ada maupun yang sedang diincar. “Kalau sudah sesuai dengan target harga kenapa enggak dibeli atau dijual dulu aja. Saya pikir kembali ke disiplin masing-masing investor, karena tidak ada rumus khusus,” ujarnya.

Analis Oso Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, secara historis, momen jelang libur panjang seperti lebaran akan menurunkan volume perdagangan dibanding bulan biasa. “Salah satu alasannya karena investor lebih menahantradingdan mengalihkan ke konsumsi untuk lebaran,” kata Sukarno.

Analis Indo Premier Sekuritas Mino mengatakan, sangat wajar apabila ketika lebaran volume transaksi lebih sepi dari biasanya. “Sejauh ini dampaknya positif ya, marketcenderung menguat. Bisa sampai level 6.210,” tandasnya.

Meski begitu ia juga tidak memungkiri, penguatan tersebut hanya bersifat sementara dan pasar bisa mengalami penurunan secara tipis. 

Dengan kondisi demikian, ada baiknya investor bisa menunggu kondisi kembali normal. “Pun bisa juga melakukan strategi buy on weakness,” tuturnya. 
Hal itu tak lepas dari kondisi indeks harga saham gabungan (IHSG) yang berada di area overbought.

Menurutnya bila investor lebih memilih untuk menunggu maka bisa mengamati pergerakan IHSG ketika breakdi level tertentu. “Skenarionya break di level 6.054 dan menunggu di level 5.976,” katanya.

Meski menggunakan strategi buy on weakness, Sukarno mengingatkan investor untuk jangan asal serok. “Bisa mulai menyicil saham-saham di indeks LQ45 yang punya prospek bagus dan price equity ratio-nya masih rendah,” kata Sukarno.

Setali tiga uang, Mino juga menganjurkan para investor untuk menahan diri berinvestasi dalam jangka panjang dan lebih menganjurkan untuk mengandalkan short-term trading. 

“Dari sentimen eksternal masih cenderung negatif. Bisa membuat pasar tertekan ketika transaksi kembali normal,” katanya.

Dengan kondisi seperti ini Sukarno merekomendasikan beberapa saham seperti BBNI, BBRI, PTPP, dan WIKA. Sedangkan rekomendasi Mino jatuh pada TLKM, JSMR, EXCL dan ICBP.
Reporter: Aloysius Brama
Editor: Herlina Kartika Reporter: Aloysius Brama
Editor: Herlina Kartika Video Pilihan
Artikel Asli

Related posts

Harga emas Antam meredup hari ini, simak proyeksinya ke depan

kontan.co.id

IHSG melorot 0,53% di akhir sesi pertama

kontan.co.id

Diversifikasi ke bisnis emas, saham-saham ini kian direkomendasikan

kontan.co.id

Leave a Comment