Impor China Kuat di Juli 2018, Harga Batu Bara Naik 0,3%
Energi

Impor China Kuat di Juli 2018, Harga Batu Bara Naik 0,3%

Jakarta, –┬áHarga batu bara ICE Newcastle kontrak acuan ditutup menguat sebesar 0,34% ke US$116,3/ton pada perdagangan hari Kamis (10/08/2018). Dengan pergerakan itu, harga batu bara mampu rebound pasca turun selama tiga hari berturut-turut sebelumnya.

Harga si batu hitam mendapat suntikan energi positif dari data impor batu bara China yang tumbuh cukup signifikan di Juli 2018. Mengutip Reuters, impor batu bara China bulan lalu naik 14% secara bulanan (month-to-month/MtM) ke 29,01 juta ton, tertinggi dalam 4,5 tahun.

Melesatnya impor batu bara Negeri Panda didorong oleh gelombang panas yang menyapu Bumi Belahan Utara (BBU). Akibatnya, energi listrik yang digunakan menyalakan pendingin ruangan pun memuncak, sehingga memicu meroketnya permintaan batu bara untuk pembangkit listrik.

Temperatur di wilayah pengkonsumsi utama batu bara di Asia Utara dan Eropa menyentuh rekor tertingginya di Juli 2018. “Pelebaran suhu panas antara 1-4 derajat Celsius di atas normal telah terjadi di wilayah Selatan Tengah, Timur, dan Timur Laut di China, selama 7 hari terakhir,” papar Ed Whalen, seorang analis cuaca, seperti dilansir dari Reuters.

Selain itu, kuatnya impor juga didukung oleh kebijakan pemerintah Negeri Panda untuk membatasi produksi batu bara domestik. Dari data teranyar, produksi batu bara China di Juni 2018 jatuh 1,4% secara MtM, ke level terendahnya dalam 8 bulan terakhir.

Meski demikian, kekhawatiran akan lesunya permintaan pasca musim panas berlalu, membatasi penguatan harga batu bara. “Kita akan melihat sebagian dari permintaan (batu bara) musim panas berkurang seiring datangnya temperatur yang lebih dingin, dan kita bergerak keluar dari puncak musim panas,” ujar Pat Markey, Managing Director di perusahaan konsultan komoditas Sierra Vista Resources, seperti dikutip dari Reuters.

Selain itu, pelemahan Yuan China juga mendorong penurunan harga batu bara. Mata uang Negeri TIrai Bambu telah menurun nyaris 3% terhadap dolar AS di sepanjang Juli 2018, seiring munculnya kekhawatiran terkait eskalasi perang dagang dengan Negeri Paman Sam yang merupakan pembeli utama dari produk-produk China.

“Akibat melemahnya yuan (China) terhadap dolar AS, kekuatan pembelian dari konsumen (batu bara) di China juga menurun,” tambah Markey.

Sebagai informasi, akibat ekspektasi penurunan permintaan tersebut, harga batu bara sudah terkoreksi nyaris 1% di sepanjang pekan ini, hingga perdagangan kemarin. (CNBCIndonesisa.com)

Leave a Comment