Connect with us

Makro Ekonomi

Ekonomi RI Bisa Pulih dengan Investasi Rp5.800 T

 

Jakarta – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengatakan Indonesia perlu investasi di kisaran Rp5.800 triliun hingga Rp5.900 triliun demi memulihkan pertumbuhan ekonomi ke level 5 persen.

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Ekonomi Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan dana pemerintah terbatas untuk investasi hingga ribuan triliun. Untuk itu, pemerintah memerlukan peran swasta.

“Catatan kami, untuk kebutuhan investasi ini sebagian besar dikontribusi sektor swasta,” ucap Amalia dalam Webinar Outlook Pembangunan 2021, Selasa (22/12).

Amalia menjelaskan investasi swasta harus mencapai 84,7 persen hingga 90,1 persen dari total investasi yang dibutuhkan. Kemudian, sisanya pemerintah 5 persen-7,1 persen dan Badan Usaha Milik Negara 4,9 persen-8,1 persen.

“Dengan demikian, sektor swasta memiliki peran penting dalam mendorong tercapainya target perekonomian,” terang Amalia.

Ia optimistis nilai investasi akan tumbuh 6,4 persen pada tahun depan. Investasi akan berkontribusi sebesar 31,5 persen terhadap perekonomian domestik.

“Kami harap peran investasi domestik meningkat. Tentu ini akan mendukung iklim ketenagakerjaan yang lebih kondusif terhadap investor,” tutur Amalia.

Menurut Amalia, jika industri pulih pada 2021 dengan pertumbuhan 5 persen, sektor ketenagakerjaan akan mendapat imbas positif. Berdasarkan hitungan Bappenas, tenaga kerja yang terserap di industri bisa mencapai 18 persen.

Di sisi lain, ia melihat industri pariwisata akan menjadi sektor yang paling lama bangkit. Hal ini lantaran proses penanganan pandemi covid-19 masih berlangsung di sejumlah negara.

Ia memperkirakan proses pemulihan industri pariwisata baru bisa terjadi tahun depan. Kendati demikian, prosesnya bertahap karena ada perubahan daya beli masyarakat akibat pandemi covid-19.

“Pemulihannya akan lebih didorong wisatawan nusantara,” jelas Amalia.

Sumber Berita : CNN INdonesia

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Makro Ekonomi