Connect with us

LAINNYA

Teknologi Ancam Lapangan Kerja Manajemen Aset

Published

on

Photo: Istimewa

FINANCEROLL.COM, JAKARTA -- Moody’s Investors Service menyebutkan sumber daya manusia (SDM) yang bergelut di sektor manajemen aset sangat rentan digantikan oleh teknologi. Salah satu indikator, yakni perusahaan manajemen aset mulai menata ulang model bisnisnya, termasuk implementasi pengurangan biaya operasional.

Penataan ulang model bisnis dilakukan karena investor memiliki sudut pandang bahwa manajer aset tidak memberikan nilai tambah kepada investasinya, meski investor telah membayar jasa manajer aset.

Ini membuat bisnis manajemen aset makin rapuh dan membuka peluang bagi perusahaan teknologi untuk merangsek masuk ke ranah manajemen aset.

Lihat juga: Bappenas Waspadai Dampak Digitalisasi Terhadap Lapangan Kerja
Analis Moody’s Stephen Tu mengatakan, masuknya perusahaan digital ke dalam sektor manajemen aset sudah dimulai terlebih dahulu di China. Pada 2013 lalu, Ant Financial, perusahaan yang berafiliasi dengan Alibaba, meluncurkan Yu’e Bao, yakni mekanisme investasi digital di pasar uang.

Cara kerjanya, Yu’e Bao menawarkan pengguna Alipay untuk bisa menanamkan modal tanpa harus mencari dana di bank dan kartu kredit. Dalam jangka empat tahun, Yu’e Bao kini menjadi pasar uang terbesar di dunia dengan 260 juta pengguna dan aset kelolaan mencapai 1,43 juta Renminbi.

“Aplikasi ini memudahkan pengguna Alibaba untuk menggunakan uang yang tersisa di akun uang elektronik Alibaba (Alipay) untuk jasa keuangan lainnya,” ujarnya, mengutip keterangan resmi Moody’s, Selasa (14/11).

Ia melanjutkan, mudahnya penetrasi digital di dalam sektor manajemen aset ini juga tentu menarik minat perusahaan teknologi lainnya. Sebab, selain mudah untuk dijajaki, bisnis aset manajemen juga terbilang memberi imbal hasil yang baik dengan belanja modal yang minim.

Di samping itu, kini bisnis manajemen aset juga mengutamakan hubungan yang baik dengan klien. Sementara itu, perusahaan teknologi yang berbasis pengguna memiliki manfaat tersebut, mengingat perusahaan teknologi rata-rata sudah menyimpan data penggunanya. Ini bisa menjadi keunggulan tersendiri dibanding SDM yang menggeluti profesi sebagai manajer aset.

“Beberapa firma teknologi asal Amerika Serikat bisa menjadi kandidat terkuat untuk merambah sektor manajemen aset. Amazon, Google, Apple, dan Facebook punya keunggulan di distribusi melalui data pengguna dan analisis yang maju,” paparnya.

Meski demikian, terdapat beberapa hal yang bisa menghambat perusahaan-perusahaan itu masuk ke ranah manajemen aset. Menurut dia, pertumbuhan bisnis manajemen aset terbilang lebih kecil dibandingkan sektor lainnya.

Sehingga, akan jarang ada perusahaan teknologi yang menggarap bisnis manajemen aset hanya untuk mencari pendapatan komisi saja. “Mungkin, masuknya perusahaan itu ke ranah manajemen aset hanya sebagai pelengkap inti bisnis mereka,” pungkasnya.

Makanya, Moody’s menyarankan bahwa pekerja di sektor manajemen aset harus bersiap diri menghadapi infiltrasi digital ini. Apalagi, beberapa perusahaan, seperti Fidelity dan BlackRock sudah berinvestasi di dalam pemanfaatan teknologi dalam menawarkan produknya ke klien. (bir)

Dia adalah jurnaslis senior khusus di bidang polhukam dan ekonomi

Trending Business