July 4, 2009 13:07:48 Sydney, AustraliaJuly 4, 2009 12:07:48 Tokyo, JapanJuly 4, 2009 04:07:48 London, UKJuly 3, 2009 23:07:48 New York, US

Sen

17

Nov

2008

Outlook indeks Asia: Hasrat beli investor makin menipis
Artikel - Fundamental
Ditulis oleh Mahdianto   
Jakarta, Financeroll.com (18 Nov)

anto_baru3.jpgIndeks-indeks utama Asia diperkirakan pada awal perdagangan akan mengalami koreksi kembali dengan bayang-bayang resesi ekonomi yang telah melanda Jepang.

Tak dapat dipungkiri bahwa kemarin Jepang melaporkan telah mengalami resesi ekonomi yang membuat negara industri terbesar ke 2 didunia ini harus gigit jari akan hasil dari meeting G20.

Penyelematan ekonomi sebagai agenda utama G20 nampak tak terlalu memberi efek yang positif ke dalam hati investor bursa dengan bukti bahwa bayang-bayang resesi ekonomi masih jauh dari kata selesai pada akhir tahun ini.

Kepastian kapan berakhirnya resesi makin menjadi tanda tanya besar dimana disikapi dingin oleh Wall Street tadi pagi dengan posisi jual yang lebih besar daripada beli.

Sektor pertama adalah keuangan atau perbankan yang semalam diamini dengan Citigroup yang akan memangkas karyawannya lebih dari 50 ribu pekerja dalam waktu dekat dan segera terbayang bahwa kondisi ini tidak akan jauh berbeda dengan apa yang akan terjadi di sektor perbankan Asia karena sebagian besar saham Citigroup dimiliki perbankan China.

Efek lainnya dengan pengangguran yang akan meningkat akan menerpa sektor industri termasuk elektronik serta retailer, dimana daya beli konsumen akan semakin terbatas dan order akan barang dipastikan turun tajam seperti yang terjadi di New York semalam setelah laporan the Fed bagian NY yang menyatakan aktivitas bisnis termasuk industrinya masih terjerat dengan kontraksi yang lebih tajam lagi.

Sektor lainnya adalah komoditi tambang dan perkebunan, dapat dipastikan akan melorot lagi karena harga-harga sektor ini terus menunjukkan trend turun seiring dengan tingkat konsumsi yang belum menampakkan kebangkitannya.

Kuatnya mata uang yen terhadap dollar masih menjadi kendala utama bagi eksporter di Asia khususnya Jepang karena memberi dampak harga barang-barang dari Asia di AS terlihat semakin mahal sehingga nampak tak kompetitif lagi terhadap barang dari AS sendiri dan Eropa lainnya.