| | Articles - Currencies | | Written by Hendi Suhendi | | | | Jakarta Financeroll.com - Euro dan poundsterling berhasil rebound. Tertahannya dominasi dolar di sinyalir merebaknya kembali sentimen risk appetite, para investor kembali melirik mata uang yang memiliki imbal hasil lebih tinggi seiring membaiknya data industri produksi di Eropa untuk sementara telah berhasil meredam kekhawatiran masalah kredit di Yunani. Mulai kondusifnya perpotlitikan di U.K di harapkan akan ada kebijakan dari Pemerintah yang tepat dan di dukung oleh parlemen guna mengatasi masalah defisit anggaran di U.K.
Terlepas dari beberapa faktor di atas akan tertahannya dominasi dolar, di duga kuat antisipasi para pelaku pasar menjelang event penting di minggu berikutnya yang bisa berdampak terhadap trend euro dan poundsterling. Pada tanggal 15-16 maret, Menteri Keuangan yang tergabung dalam Uni Eropa akan menggelar pertemuan membahas bailout terhadap yunani. Di hari Rabu MPC meeting minutes masih di tunggu oleh para investor, bagaimana kebijakan BOE masalah suku bunga serta kebijakan fiskal untuk mendorong pertumbuhan U.K seperti yang telah di utarakan oleh Kepala tim ekonomi Bank Sentral U.K Spencer Dale.
Penguatan yang tengah terjadi dengan mata uang swiss franc dan yen patut di waspadai. Kedua Bank Sentral dari masing-masing negara teresbut yaitu SNB dan BOJ berulang kali menegaskan akan mengambil sikap tegas guna mencegah penguatan mata uangnya lebih lanjut. Talk intervention dalam beberapa kesempatan memang cukup ampuh meredam laju mata uang yen dan swiss franc.
Untuk perdagangan berikutnya, data fundamental ekonomi yang di perkirakan bisa mempengaruhi pergerakan pasar di antaranya dari Amerika data TIC Long Term Purchase dengan estimasi menurun, industri produksi dengan estimasi menurun menurun pula, dari Swiss data PPI dengan perkiraan menurun dan dari Australia event Monetary Policy meeting Minutes. Rebound yang tengah terjadi dengan beberapa mata uang yang memiliki imbal hasil lebih tinggi atau lebih popular dengan istilah risk appetite kami perkirakan belum mencerminkan perubahan trend secara keseluruhan. Sinyalemen profit taking serta squaring poisi oleh para spekulan di akhir pekan di duga kuat berada di balik terkoreksnya mata uang dolar terhadap major currency lainnya. Membaiknya beberapa indikator ekonomi AS akhir-akhir ini di tandai dengan bertahannya bursa saham dow jones di level puncak telah memberikan indikasi kepercayaan akan perekonomian Negri Paman Sam ini. Ekpektasi akan kenaikan suku bunga Federal Reserve AS bisa memicu para spekulan buy back dolar kembali.
| | | Articles - Currencies | | Written by Hendi Suhendi | | | | Jakarta Financeroll.com - Perdagangan currency sampai penutupan pasar Amerika, dolar AS cenderung bergerak konsolidasi terhadap major currency lainnya. Membaiknya data neraca perdagangan Amerika tak berbanding lurus dengan data jobles claims yang justru terjadi peningkatan angka pengangguran. Para pelaku pasar pun cenderung bersikap wait&see dalam menentukan trend dolar selanjutnya, data retail sales Amerika hari ini di perkirakan akan mempengaruhi perdagangan di akhir pekan ini.
Poundsterling berhasil menguat tipis di dorong oleh peningkatan inflasi U.K, namun penguatan the cable masih terbatas di picu sikap antisipasi para pelaku pasar menjelang MPC minutes yang akan di rilis mingu depan. Dalam hal ini pasar tetap meragukan akan perubahan kebijakan moneter dari Bank Sentral U.K. Kecemasan akan krisis kredit di U.K serta kestabilan masalah politik terus menimbulkan ketidakpastian akan kondisi perekonomiannya.
Mata uang swiss franc pada perdagngan di pasar Eropa sempat melemah pasca bank sentral swiss SNB tetap mempertahankan kebijakan suku bunganya, pernyataan dari SNB terhadap pemnguatan swiss franc akhir-akhir ini tetap konsisten. Bank Sentral akan bertindak melakukan intervensi ke pasar bila penguatan mata uangnya terus berlanjut guna menjaga kestabilan ekonominya.
Untuk perdagangan hari ini, data fundamental ekonomi yang di perkirakan bisa mempengaruhi pergerakan pasar di antaranya dari Eropa data industri produksi dengan estimasi membaik bisa menopang euro kembali menguat, sedangkan dari Amerika sendiri data retail sales dengan estimasi menurun namun consumer sentiment di perkirakan akan membaik. Penguatan yang tengah terjadi dengan beberapa mata uang lain terhadap dolar Amerika di duga kuat aksi ambil untung oleh para spekulan pasca dominasi dolar dalam beberapa pekan terakhir ini. Isu sentral masalah yang mendera kawasan Eropa dan UK berpotensi akan merebak kembali dan bisa memicu risk aversi kembali, di sisi lain spekulasi akan kenaikan suku bunga Federal Reserve AS bisa lebih cepat dari Bank Sentral lainnya akan mendorong greenback untuk melanjutkan penguatannya lagi. Doloa | | | Articles - Currencies | | Written by Hendi Suhendi | | | | Perdagangan currency sampai penutupan pasar Amerika, greenback kembali menunjukan superioritasnya terhadap major currency, kecuali terhadap yen. Memburuknya kesehatan fiskal di negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa seperti Yunani, Portugal, Spanyol dan paling akhir Itali kembali telah mengguncang pasar global. Para spekulan menghindari aset yang beresiko tinggi dan kembali melirik safe haven currency seperti dolar AS dan yen yang memiliki resiko lebih rendah. | | Read more... | | | Articles - Currencies | | Written by Hilman Pradana | | | | Financeroll.com - Pergerakan dolar yang bearish trend tampaknya akan bertahan lama, setidaknya di minggu
ini. Proses pemulihan ekonomi negeri Om Sam yang berlangsung cukup lama disinyalir menjadi penghambat
kemajuan dolar. Secara otomatis akhirnya investor mata uang banyak yang beralih melirik komoditas
terutama emas untuk investasi. Demikian pula nasib obligasi pemerintah Amerika yang kurang menarik lagi
bagi investor akibat suku bunga Federal Reserve yang rendah juga memberi andil melemahnya the green back.
Di awal minggu ini dolar kemungkinan cenderung sideway karena sepi dukungan fundamental terutama data
ekonomi. Dari sini bisa diperkirakan bahwa pergerakan dolar masih berada di area merah karena
pemerintahan Barack Obama tampak masih ingin mempertahankannya demi mendongkrak sektor ekspor, ditambah
lagi dengan wacana banyak negara mulai memikirkan mengganti patokan kurs dari dolar menjadi mata uang
utama lainnya seperti poundsterling dan euro. Ada kemungkinan satu-satunya faktor pendongkrak dolar
adalah data ekonomi yang hasilnya bagus. Sedangkan rupiah di awal minggu tampak menguat karena Bank
Indonesia masih intervensi agar laju penguatan rupiah tidak terlalu cepat. sebab penguatan rupiah
terhadap dolar seiring sentimen pasar secara global telah membuat laju rupiah bergerak cepat dalam
beberapa hari. Sehingga dalam minggu ini diperkirakan pergerakan rupiah akan stabil sideway cenderung
bearish. Sementara itu secara teknikal pergerakan dolar masih bearish trend di minggu ini sama sekali
tidak menunjukkan tanda-tanda bullish secara signifikan. Untuk mata uang utama dalam minggu ini euro
berpotensi bullish menuju 1.5158, poundsterling berpotensi bullish menuju 1.7037, yen berpotensi bearish
menuju 89.18, Swiss franc berpotensi bearish menuju 1.0019, aussy berpotensi bearish menuju 1.0019 dan
rupiah berpotensi bearish menuju 9247. | | |
| |
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
| Page 1 of 11 |